RITUAL ADAT PICUNDUPIA Cetak
Ditulis oleh Tim Pengelola Website   
Sabtu, 16 Desember 2017 16:29

picundupiaPesta adat warga Takimpo Pasarwajo Kambula bulana Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara menggelar pesta adat dua tahunan Picundupia, bertempat di Pantai Wajo.

Zaini, S.Pd, M.Pd selaku Panitia Penyelenggara mengatakan, Picundupia merupakan rangkaian pesta adat Pasarwajo dengan memberikan darah ayam pada anak pertama dan diikuti dengan mandi-mandi di Pantai Wajo,yang nantinya akan diikuti dengan makan-makan bersama. Dia menjelaskan tradisi Picundupia sudah dilakukan masyarakat Pasarwajo sejak zaman dahulu, berawal dari pemotongan ayam jantan dan betina oleh perangkat adat Pasarwajo yang dilakukan di Kolo pantai wajo. Setiap keluarga yang memiliki anak Cumpe (anak pertama) diwajibkan mengikuti ritual ini sebagai penanda keturunan tersebut telah menjadi keluarga Takimpo Pasarwajo Kambula bulana dan diharapkan agar anaknya tersebut menjadi anak yang baik, taat Kepada Allah SWT, mencintai keluarga, bangsa dan tanah air serta berbakti kepada orang tua.

“Picundupia acara yang pertama kali dilakukan sebelum acara lain dalam Pesta adat Pasarwajo,”ujarnya. Konon katanya pada zaman dahulu tradisi yang terus dilakukan di kolo tersebut punya cerita, ada keanehan airnya menjadi tawar mulai dari Wajo, Liang, Batumotongka dan Asa berbeda dengan air- air lain di tepi pantai teluk Pasarwajo.

Sementara itu, Plt. Bupati Buton Drs. La Bakry, M.Si mengatakan Pemerintah Daerah sangat mendukung dan mensuport pelaksanaan acara adat yang menjadi tradisi masyarakat dan terus dilestarikan, Seperti tahun tahun sebelumnya.

“Mewakili Pemda dan seluruh jajaran menyampaikan selamat, mudah-mudahan yang dilaksanakan hari ini tetap terjaga untuk memperkokoh persaudaraan dan silaturahmi diantara kita semua,”ujarnya.

Acara Picundupia hanya ada di pesta adat Takimpo Pasarwajo Kambula bulana dan tidak ada didaerah lain, dan Acara adat ini merupakan modal dasar dalam membangun daerah terutama Pasarwajo. Ini punya nilai tinggi dalam konteks pembangunan karakter, artinya masyarakat tidak melupakan jati dirinya. Muaranya untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

“Pemda bersyukur suasana kearifan lokal ini bisa kita jaga terus menerus,
Mudah-mudahan sampai diacara puncak dapat dilaksanakan bersama. Mari kita pelihara suasana kedamaian seperti ini,”ujarnya.